Cara Mengurus Klasifikasi SBU Konstruksi: Dari KBLI sampai Subklasifikasi

Cara Mengurus Klasifikasi SBU Konstruksi: Dari KBLI sampai Subklasifikasi

Cara mengurus klasifikasi SBU konstruksi sebaiknya dimulai dari pekerjaan yang benar-benar akan dijalankan badan usaha, bukan dari memilih kode SBU yang terlihat paling luas. Urutannya adalah tentukan pekerjaan → cocokkan KBLI → pilih subklasifikasi → periksa kualifikasi dan sumber daya → sinkronkan data → lanjutkan sertifikasi.

Acuan sektor pekerjaan umum yang berlaku saat ini adalah Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 6 Tahun 2025, yang berstatus berlaku dan mengatur standar kegiatan usaha dan/atau produk/jasa dalam Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko sektor pekerjaan umum.

Kerangka Perizinan Berusaha Berbasis Risiko saat ini menggunakan PP Nomor 28 Tahun 2025, yang berstatus berlaku dan mencabut PP Nomor 5 Tahun 2021.

Cara Mengurus Klasifikasi SBU Konstruksi

Klasifikasi tidak sebaiknya dipilih hanya karena perusahaan ingin mengikuti proyek tertentu. Klasifikasi dan subklasifikasi harus menggambarkan ruang lingkup pekerjaan konstruksi yang benar-benar diselenggarakan badan usaha dan harus konsisten dengan data kegiatan usahanya.

Pada OSS, kategori Konstruksi sudah ditampilkan dalam struktur KBLI 2025 dan dibagi antara lain ke konstruksi gedung, konstruksi bangunan sipil, dan konstruksi khusus.

Karena itu, perusahaan yang mengerjakan gedung, jalan, instalasi khusus, pondasi, atau bagian pekerjaan tertentu tidak otomatis menggunakan klasifikasi yang sama hanya karena semuanya berada dalam sektor konstruksi.

Langkah 1: Tetapkan Pekerjaan Konstruksi yang Benar-Benar Dilakukan

Mulailah dengan daftar pekerjaan aktual, bukan daftar kode.

Tulis secara spesifik apa yang dikerjakan perusahaan, misalnya:

  • membangun gedung hunian
  • membangun gedung penginapan
  • mengerjakan jalan
  • mengerjakan struktur beton
  • melakukan pekerjaan kedap air
  • mengerjakan instalasi tertentu
  • menangani pekerjaan konstruksi khusus

Pisahkan pekerjaan utama dengan pekerjaan yang hanya sesekali disubkontrakkan kepada perusahaan lain.

Tujuannya adalah menemukan ruang lingkup yang memang perlu disertifikasi, bukan mengumpulkan sebanyak mungkin subklasifikasi tanpa kemampuan pendukung.

Langkah 2: Cocokkan Pekerjaan dengan KBLI yang Aktif

Setelah pekerjaan jelas, cari kegiatan yang paling sesuai pada OSS.

Jangan hanya mencocokkan kata dalam judul KBLI. Baca uraian kegiatan serta ruang lingkup yang ditampilkan karena dua kode dengan istilah serupa dapat mencakup pekerjaan berbeda.

Sebagai contoh konkret, OSS memetakan KBLI 42101 Konstruksi Bangunan Sipil Jalan ke subklasifikasi BS001.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa proses klasifikasi dapat dimulai dari kegiatan usaha yang spesifik, kemudian dilanjutkan ke kode subklasifikasi yang ditampilkan untuk ruang lingkup tersebut.

Pemeriksaan versi KBLI juga penting karena OSS menampilkan konversi KBLI 2020 ke KBLI 2025, misalnya kode 42915 berubah menjadi 42991 untuk Konstruksi Bangunan Sipil Minyak dan Gas Bumi.

Jika perusahaan masih menggunakan daftar lama, jangan langsung menyalin kode tersebut ke rencana sertifikasi tanpa mengecek struktur terbaru pada OSS.

Langkah 3: Pilih Subklasifikasi yang Sesuai Ruang Lingkup

KBLI dan subklasifikasi saling berkaitan, tetapi hubungannya tidak selalu sederhana.

Sebaliknya, satu KBLI tidak selalu identik dengan satu pilihan subklasifikasi karena OSS menampilkan beberapa subklasifikasi pada KBLI 43909 Konstruksi Khusus Lainnya Ytdl, termasuk pekerjaan perkerasan beton, kedap air, perkerasan aspal, pengeboran, dan struktur beton.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan harus memilih berdasarkan pekerjaan yang benar-benar akan dilakukan.

Gunakan tiga pertanyaan:

  1. Apakah uraian subklasifikasi sesuai dengan kontrak atau pekerjaan perusahaan?
  2. Apakah perusahaan memiliki tenaga dan kemampuan yang mendukung ruang lingkup tersebut?
  3. Apakah subklasifikasi tersebut konsisten dengan kegiatan pada NIB dan OSS?

Jangan memilih pekerjaan struktur beton hanya karena perusahaan memiliki KBLI konstruksi khusus jika pekerjaan utama perusahaan sebenarnya berada pada ruang lingkup lain.

Langkah 4: Tentukan Jumlah SBU yang Memang Dibutuhkan

Pemilihan beberapa subklasifikasi mempunyai konsekuensi pada sertifikat yang perlu diproses.

Portal resmi SIJK menyatakan bahwa satu BUJK dapat memiliki lebih dari satu SBU dan satu SBU masa reguler terdiri atas satu subklasifikasi.

Artinya, jika badan usaha benar-benar membutuhkan beberapa subklasifikasi, jangan menganggap satu sertifikat otomatis mencakup seluruh ruang lingkup tersebut.

Sebelum menambah subklasifikasi, evaluasi apakah subklasifikasi itu:

  • benar-benar digunakan dalam kegiatan usaha
  • didukung tenaga kerja yang sesuai
  • didukung kemampuan badan usaha
  • relevan dengan target pekerjaan nyata

Pendekatan ini lebih aman daripada memilih banyak ruang lingkup hanya untuk berjaga-jaga.

Langkah 5: Periksa Kualifikasi dan Kemampuan Badan Usaha

Setelah klasifikasi dan subklasifikasi dipilih, periksa standar kemampuan untuk ruang lingkup tersebut berdasarkan regulasi yang berlaku.

Jangan menentukan kualifikasi hanya dari keinginan mengambil nilai proyek yang lebih besar. Kualifikasi harus dicocokkan dengan parameter kemampuan badan usaha yang berlaku pada subklasifikasi tersebut.

Dalam praktik pemeriksaan, siapkan data yang dapat mendukung penilaian seperti:

  • legalitas dan identitas badan usaha
  • data pengalaman apabila dipersyaratkan
  • kemampuan keuangan atau data usaha yang relevan
  • tenaga kerja konstruksi yang dipersyaratkan
  • peralatan utama apabila menjadi bagian standar subklasifikasi

Tidak semua subklasifikasi mempunyai kombinasi persyaratan yang identik. Karena itu, hindari satu daftar syarat universal untuk seluruh SBU konstruksi.

Langkah 6: Periksa Tenaga Kerja dan Sumber Daya Pendukung

Kesalahan klasifikasi sering baru terlihat ketika sumber daya perusahaan dibandingkan dengan standar subklasifikasi.

Sebelum proses sertifikasi, buat tabel audit internal:

Komponen Pertanyaan pemeriksaan
KBLI Apakah sesuai kegiatan aktual?
Subklasifikasi Apakah sesuai ruang pekerjaan?
Kualifikasi Apakah kemampuan badan usaha memenuhi?
Tenaga kerja Apakah kompetensi sesuai ruang lingkup?
Pengalaman Apakah data yang dibutuhkan tersedia?
Peralatan Apakah persyaratan peralatan dapat dipenuhi?

Jika salah satu unsur utama belum tersedia, jangan memaksakan klasifikasi tersebut hanya karena perusahaan ingin memasukkannya ke dalam portofolio usaha.

Langkah 7: Sinkronkan NIB, KBLI, dan Data Sertifikasi

Sebelum sertifikasi diproses, bandingkan data antar dokumen dan sistem.

Periksa minimal:

  1. nama dan identitas badan usaha
  2. KBLI pada NIB
  3. uraian kegiatan yang dijalankan
  4. subklasifikasi SBU yang dimohonkan
  5. kualifikasi yang dipilih
  6. tenaga kerja dan kompetensinya
  7. data pengalaman dan peralatan jika relevan

Ketidaksesuaian tidak selalu berarti dokumennya kurang. Masalah dapat berada pada pemetaan kegiatan sejak awal.

Contohnya, perusahaan dapat mempunyai dokumen legalitas lengkap tetapi tetap memilih subklasifikasi yang tidak menggambarkan pekerjaan sebenarnya. Dalam kondisi seperti itu, menambah dokumen tidak memperbaiki akar masalah.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Memilih Klasifikasi

Memulai dari kode SBU, bukan pekerjaan

Kode seharusnya menjadi hasil pemetaan, bukan titik awal.

Menganggap satu KBLI selalu mempunyai satu subklasifikasi

OSS menunjukkan ada kegiatan yang mempunyai beberapa kemungkinan subklasifikasi. Pilihan akhirnya harus mengikuti pekerjaan sebenarnya.

Menggunakan daftar KBLI lama tanpa pemeriksaan

Karena OSS sudah menampilkan KBLI 2025 dan informasi konversi untuk beberapa kode, pemetaan lama perlu diverifikasi kembali.

Menambah subklasifikasi tanpa sumber daya

Setiap ruang lingkup harus dapat didukung kemampuan badan usaha yang dipersyaratkan.

Menyamakan SBU konstruksi dengan SBU JPTL

Kegiatan jasa konstruksi dan jasa penunjang tenaga listrik berada pada rezim sektoral yang berbeda. Jangan menggunakan klasifikasi JPTL untuk menggantikan kebutuhan SBU konstruksi atau sebaliknya.

Jika Anda masih perlu memahami perbedaan kategori dan sifat pekerjaan terlebih dahulu, gunakan artikel jenis-jenis SBU konstruksi sebagai pembahasan pendukung sebelum menentukan subklasifikasi.

Baca juga: jenis-jenis SBU Konstruksi untuk memahami kelompok SBU umum dan spesialis. Untuk proses sertifikasi badan usaha, lihat jasa sertifikasi SBU Konstruksi.

Kesimpulan

Cara mengurus klasifikasi SBU konstruksi yang lebih aman adalah memetakan pekerjaan terlebih dahulu, baru menentukan kode dan sertifikat.

Urutannya:

  1. identifikasi pekerjaan aktual
  2. cari KBLI yang sesuai pada OSS
  3. periksa subklasifikasi yang tersedia
  4. pilih hanya ruang lingkup yang benar-benar dibutuhkan
  5. tentukan kualifikasi berdasarkan kemampuan badan usaha
  6. periksa tenaga kerja dan sumber daya pendukung
  7. sinkronkan seluruh data sebelum sertifikasi

Dengan urutan tersebut, badan usaha dapat mengurangi risiko memilih subklasifikasi yang tidak sesuai, menggunakan pemetaan KBLI lama, atau mengajukan ruang lingkup yang belum didukung kemampuan perusahaan.

Perlu Memeriksa Klasifikasi SBU Sebelum Sertifikasi?

Jika badan usaha Anda belum yakin menentukan KBLI, subklasifikasi, atau kualifikasi yang sesuai dengan pekerjaan konstruksi, lakukan Konsultasi melalui Jasa Legal ID dengan menyiapkan NIB, uraian pekerjaan, pengalaman perusahaan, serta data tenaga kerja yang tersedia.

Setelah pemetaan selesai, proses dapat dilanjutkan melalui layanan sertifikasi SBU konstruksi sesuai kebutuhan badan usaha.

FAQ – Cara mengurus klasifikasi SBU konstruksi

Bagaimana cara menentukan klasifikasi SBU konstruksi?

Mulailah dari pekerjaan yang benar-benar dilakukan badan usaha, lalu cocokkan dengan KBLI pada OSS, periksa subklasifikasi yang tersedia, dan pastikan kualifikasi serta sumber daya perusahaan mendukung ruang lingkup tersebut.

Apakah satu KBLI selalu mempunyai satu subklasifikasi SBU?

Tidak. OSS menunjukkan ada KBLI yang hanya menampilkan satu subklasifikasi dan ada pula yang mempunyai beberapa pilihan subklasifikasi, sehingga ruang pekerjaan harus diperiksa lebih lanjut.

Apakah satu SBU dapat mencakup beberapa subklasifikasi?

Pada data SBU masa reguler SIJK, satu SBU terdiri atas satu subklasifikasi. Satu BUJK dapat mempunyai lebih dari satu SBU.

Apakah harus memakai KBLI 2025 saat memeriksa klasifikasi sekarang?

OSS saat ini sudah menampilkan struktur KBLI 2025 dan informasi konversi pada sejumlah kegiatan. Karena itu, kode yang berasal dari pemetaan lama sebaiknya diperiksa kembali terhadap data OSS terkini.

Apa yang harus diperiksa sebelum mengajukan subklasifikasi tambahan?

Periksa relevansi pekerjaan, KBLI, kualifikasi, tenaga kerja, pengalaman, serta peralatan atau kemampuan lain yang dipersyaratkan untuk subklasifikasi tersebut.

Apakah SBU konstruksi sama dengan SBU JPTL?

Tidak. Keduanya berada pada ruang lingkup sektoral yang berbeda. SBU konstruksi harus dipetakan berdasarkan kegiatan jasa konstruksi, sedangkan SBU JPTL berkaitan dengan jasa penunjang tenaga listrik.

Rujukan & Referensi

  1. Regulasi terkini standar kegiatan usaha sektor pekerjaan umum — jdih.pu.go.id
  2. Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko — peraturan.go.id
  3. Struktur KBLI 2025 kategori konstruksi pada OSS — oss.go.id
  4. Contoh pemetaan KBLI konstruksi jalan ke subklasifikasi — oss.go.id
  5. Contoh satu KBLI dengan beberapa pilihan subklasifikasi konstruksi — oss.go.id
  6. Data resmi SBU konstruksi masa reguler — sijkt.pu.go.id
  7. Contoh informasi konversi KBLI konstruksi 2020 ke 2025 — oss.go.id

Rekomendasi Artikel Berikutnya

  1. panduan jenis dan ruang lingkup SBU konstruksi — jasalegalid.com
  2. cara perpanjangan SBU konstruksi — jasalegalid.com

Share :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Need Help?